Share It

09 Februari 2010

hubungan komunikasi verbal dan non verbal perawat dengan tingkat kecemasan pasien yang menjalani hemodialisa


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Semakin meningkatnya jumlah pasien gangguan fungsi ginjal yang memerlukan tindakan hemodialisa sehingga membutuhkan peran optimal dari tenaga kesehatan khususnya perawat. Disamping peran perawat juga dibutuhkan kerja sama antara pasien dan keluarga agar tindakan hemodialisa dapat dilaksanakan dengan baik sehingga komplikasi yang dapat di timbulkan dari tindakan hemodialisa dapat dicegah. Tindakan hemodialisa harus dilakukan secara rutin oleh pasien dengan gangguan fungsi sehingga hal ini akan dapat menimbulkan permasalah bagi pasien karena tindakan ini memerlukan biaya sangat mahal, disamping itu. Terkait dengan tindakan hemodilisa pasien sering mengeluhkan perasaan cemas, takut dan sejenisnya yang disebabkan oleh pemasangan alat-alat invasive, berbagai hal dari tindakan hemodialisa itu sendiri, kurangnya informasi tentang efek samping hemodialisa, kurang pemahaman mengenai penyakit gagal ginjal kronik, Pengetahuan, Jenis Kelamin, Umur, Status Sosial ekonomi serta keluarga yang belum mampu memberikan dukungan secara psikososial (Brunner dan Suddarth, 2000).
Pengalaman emperis pasien saat menjalani hemodia1isa sering menunjukkan kegelisahan, ekspresi wajah tegang, tekanan darah meningkat dan nadi meningkat, dilaporkan sebanyak 50 %-74 % kasus. (Carpenito, 2000). Berdasarkan studi pendahuluan peneliti di ruang hemodialisa BRSU Tabanan dari 15 responden yang menjalani hemodialisa 12 responden diantaranya mengalami kecemasan. Mencermati dari data tersebut di atas disimpulkan bahwa angka kecemasan pada pasien yang akan menjalani hemodialisa tinggi, akan berdampak pada psikologis pasien seperti rasa khawatir berlebihan, gelisah serta dampak depresi. Semua hal itu dapat menghambat jalannya hemodialisa.
Kurangnya komunikasi antara staf rumah sakit dengan pasien merupakan salah satu alasan keluhan umum pasien di rumah sakit yang dapat menjadi sumber stressor. Pasien sering tidak puas dengan kualitas dan jumlah informasi yang diterima dari tenaga kesehatan. Tiga puluh lima sampai dengan empat puluh persen pasien tidak puas berkomunikasi dengan dokter dan perawat, aspek yang paling membuat ketidakpuasan adalah jumlah dan jenis informasi yang diterima (Bart Smet, 2004). Dalam penelitian Achiryani (2006) mendapatkan bahwa jumlah informasi yang diberikan oleh dokter kepada pasien rata-rata 18 jenis informasi untuk diingat, ternyata hanya mampu mengingat 31%. Andrew (2006) menemukan bahwa lebih dari 60% yang diwawancarai setelah bertemu dengan dokter dan perawat salah mengerti tentang instruksi yang diberikan kepada mereka. Hal ini disebabkan oleh kegagalan profesional kesehatan dalam memberikan informasi yang lengkap, penggunaan istilah-istilah medis (sulit untuk dimengerti) dan banyaknya instruksi yang harus diingat oleh pasien. Hasil penelitian Ellis (2000), menyatakan bahwa dalam hal komunikasi dengan pasien, dari semua perawat yang diteliti sebanyak 38 orang mendapatkan nilai kurang. Hal ini disebabkan kurang disadari pentingnya komunikasi oleh perawat dan rendahnya pengalaman perawat akan teori, konsep dan arti penting komunikasi terapeutik dalam pemberian asuhan keperawatan. Dari hasil penelitian Saelan tersebut, tidak menutup kemungkinan kondisi yang sama terjadi pula dirumah sakit lain.
Kecemasan yang sering muncul pada pasien merupakan salah satu respon individu terhadap situasi yang mengancam atau mengganggu integritas diri. Berbagai dampak psikologis yang dapat muncul adalah adanya ketidaktahuan akan dapat mengakibatkan kecemasan yang terekspresi dalam berbagai bentuk seperti marah, menolak atau apatis terhadap kegiatan keperawatan. Klien yang cemas sering menggalami ketakutan atau perasaan tidak tenang. Berbagai bentuk ketakutan muncul seperti ketakutan akan hal yang tidak diketahui seperti terhadap prosedur tindakan salah satunya tindakan hemodialisa, anastesi, masa depan, keuangan dan tanggungjawab keluarga; ketakutan akan nyeri atau kematian atau ketakutan akan perubahan citra diri dan konsep diri. (Rotrock, 1999). Kecemasan dapat menimbulkan adanya perubahan secara fisik maupun psikologis yang akhirnya sering mengaktifkan syaraf otonom dimana detak jantung menjadi bertambah, tekanan darah naik, frekuensi nafas bertambah dan secara umum mengurangi tingkat energi pada klien, sehingga dapat merugikan individu itu sendiri (Rothrock, 1999). Berdasarkan konsep psikoneuroimunologi; kecemasan merupakan stressor yang dapat menurunkan sistem imunitas tubuh. Hal ini terjadi melalui serangkaian aksi yang diperantarai oleh HPA-axis (Hipotalamus, Pituitari dan Adrenal). Stress akan merangsang hipotalamus untuk meningkatkan produksi CRF (Corticotropin Releasing Factor). CRF ini selanjutnya akan merangsang kelenjar pituitari anterior untuk meningkatkan produksi ACTH (Adreno Cortico Tropin Hormon.(Guiton & Hall, 1996). Hormon ini yang akan merangsang kortek adrenal untuk meningkatkan sekresi kortisol. Kortisol inilah yang selanjutnya akan menekan sistem imun tubuh (Ader, 1996)
Dalam kaitan antara komunikasi terapeutik perawat terhadap tingkat kecemasan keluarga pasien maka sangat diperlukan solusi–solusi yang dapat meningkatkan ketrampilan berkomunikasi perawat dan juga yang dapat menhilangkan berbagai hambatan–hambatan terhadap komunikasi yang dilaksanakan perawat. Ketrampilan berkomunikasi bukan merupakan kemampuan yang kita bawa sejak lahir dan juga tidak akan muncul secara tiba – tiba saat kita memerlukannya. Ketrampilan tersebut harus dipelajari dan dilatih secara terus menerus melalui kemampuan belajar mandiri, penyegaran dan pelatihan terutama berhubungan dengan upaya untuk mendapatkan pengetahuan, sikap dan ketrampilan yang diperlukan (Ellis, 1999). Selain itu, faktor-faktor penghambat komunikasi merupakan faktor yang dapat mengganggu atau sama sekali bisa membuat perawat tidak mampu berkomunikasi secara terapeutik. Solusi–solusi ini dapat dijadikan pilihan karena bertujuan membantu tenaga kesehatan profesional (termasuk perawat) memperbaiki penampilan kerja guna memberikan pelayanan keperawatan yang berkualitas.

B. Rumusan masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka dapat dibuat suatu rumusan masalah sebagai berikut : adakah hubungan komunikasi verbal dan non verbal perawat dengan tingkat kecemasan pasien yang menjalani hemodialisa

Tidak ada komentar: