Share It

09 Februari 2010

Gambaran Saturasi Oksigen Arteri pada Pasien Asma

BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Gangguan pada sistem pernafasan merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas. Infeksi pada saluran pernafasan jauh lebih sering terjadi dibandingkan dengan infeksi pada sistem organ lain dan berkisar dari flu biasa dengan gejala-gejala serta gangguan yang relatif ringan sampai pneumonia berat (Price, 1995). Perilaku masyarakat dengan pola hidup yang kurang baik serta dampak dari perkembangan tehnologi dapat menimbulkan berbagai macam penyakit salah satu diantaranya adalah penyakit pada saluran pernafasan. Pada beberapa jenis penyakit paru apabila tidak mendapat penanganan yang adequat dapat menimbulkan penyakit pada tingkat yang lebih berat dan menjadi kronis, penyakit tersebut salah satunya adalah penyakit asma bronchiale yang dapat berkembang menjadi status asmatikus. Faktor-faktor yang menyebabkan timbulnya asma adalah. Faktor infeksi misalnya virus, jamur, parasit, dan bakteri, sedangkan faktor non infeksi seperti alergi, iritan, cuaca, kegiatan jasmani dan psikis. Adapun keluhan-keluhan yang sering muncul pada kasus ini adalah mengi/wheezing, sesak nafas, dada terasa tertekan atau sesak, batuk, retraksi otot dada, nafas cuping hidung, takipnea, kelelahan, lemah, anoreksia, sianosis dan gelisah.
Klien dengan asma akut mempunyai potensi untuk terjadinya gangguan bersihan mukus dari jalan napas yang besar maupun kecil. Inflamasi bronkus dapat mengganggu transport mukosiliari dan kemungkinan menyebabkan retensi mukus (Samransamruajkit, 2003). Asma dapat menyebabkan gangguan pertukaran gas selama serangan akut. Gangguan ini dapat menimbulkan hipoksemia dari yang ringan sampai berat. Derajat arterial hypoxemia (hipoksemia arteri) berhubungan dengan beratnya obstruksi jalan napas (National Institute of Health, 2004). Salah satu indikator adanya hipoksemia adalah terjadinya penurunan saturasi oksigen. Pengukuran saturasi oksigen dapat dilakukan dengan beberapa tehnik. Penggunaan oksimetri nadi merupakan tehnik yang efektif untuk memantau pasien terhadap perubahan saturasi oksigen yang kecil atau mendadak (Brunner, Suddart, 2002). Pemantauan konsentrasi oksigen darah yang kontinu bermanfaat, bagi penderita yang mengalami kelainan perfusi/ventilasi, dan penurunan sementara konsentrasi oksigen darah dengan menggunakan oksimetri. Pemeriksaan ini sangat penting baik dalam diagnostic dan penilaian beratnya asma maupun dalam pengololaan dan penilaian keberhasilan pengobatan, sama dengan tensimeter dalam diagnostic dan pengelolaan hipertensi atau glukometer pada diabetes mellitus.
Tingginya angka kejadian penyakit pada sistem pernafasan khususnya Asma Bronchiale memerlukan peranan perawat dalam memberikan pelayanan (preventif dan promotif) dengan menggunakan metode proses keperawatan, dengan memandang manusia sebagai manusia sebagai mahluk bio-psiko-sosial-spiritual. Peran perawat sangat dibutuhkan dalam memberikan perawatan khususnya memperhatikan dan menjaga kepatenan jalan nafas agar suplay oksigen ke paru-paru berlangsung secara maksimal dan oksigenasi dapat dipertahankan, sehingga dampak yang dapat ditimbulkan dari serangan asma yang terjadi mulai dari sakit, terbatasnya aktifitas, hingga menurunkan produktifitas sampai risiko kematian dapat dicegah.

Tidak ada komentar: