Share It

05 Mei 2010

gambaran pengetahuan ibu nifas tentang inisiasi menyusu dini

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Pemberian air susu ibu (ASI) dari awal kelahiran sampai 4-6 bulan akan menjadikan sendi-sendi kehidupan yang terbaik baginya kelak. ASI juga menjamin bayi tetap sehat dan memulai kehidupannya dalam cara yang paling sehat. Karena ASI adalah makanan terbaik diawal kehidupan bayi (Soetjiningsih, 2007).
Angka kematian bayi di Indonesia menurut SDKI 2006-2007 masih sangat tinggi yaitu 35 per 1.000 kelahiran hidup. Berdasarkan data SDKI tahun 2006 dan 2007 lebih dari 95% ibu pernah menyusui bayinya, namun yang menyusui dalam 1 jam pertama cenderung menurun dari 8% pada tahun 2006 menjadi 3,7% pada tahun 2007 (Nasution, 2009).
Berdasarkan Survei Demografi Kesehatan Indonesia tahun 2006-2007 hanya ada empat persen bayi yang mendapat ASI dalam satu jam kelahirannya, delapan persen bayi Indonesia yang mendapat ASI eksklusif enam bulan, sedangkan pemberian susu formula terus meningkat hingga tiga kali lipat dalam kurun waktu lima tahun terakhir, sedangkan di Propinsi Bali tahun 2008 hanya ada 10 persen bayi mendapat ASI dalam satu jam pertama, 18% mendapat ASI eksklusif enam bulan. Data pelaksanaan program IMD Di RSUP Sanglah tahun 2009 didapatkan data sebanyak 95% dari semua ibu yang melahirkan normal sudah melakukan IMD angka ini meningkat dari tahun 2008 sebanyak 82%.
Inisiasi menyusu dini ialah bayi mulai menyusu sendiri segera setelah lahir. Pada satu jam pertama bayi harus disusukan pada ibunya, bukan untuk pemberian nutrisi tetapi untuk belajar menyusu atau membiasakan menghisap puting susu dan mempersiapkan ibu untuk mulai memproduksi ASI kolostrum. Kolostrum adalah susu awal yang diproduksi oleh ibu yang baru melahirkan yakni dihasilkan dalam waktu 24 jam pertama setelah melahirkan Utami Roesli, (2009)
Inisiasi Menyusu Dini (IMD) merupakan langkah awal menuju kesuksesan menyusui, salah satu faktor penting dari pembangunan sumber daya manusia kedepan. Penelitian menunjukan bahwa mortalitas dapat ditekan dengan efektif saat kita memberikan kesempatan pada bayi untuk bersama ibunya, dengan kontak kulit dan membiarkan mereka bersama-sama minimal 1 jam. Disaat itu ibu dapat merespon bayinya, memberi perhatian, memberi kehangatan dan memperkenalkan arti kehidupan dunia yang baru, sehingga bayi pun lebih tenang dan jarang menangis, bayi menjadi lebih hangat sehingga dapat menurunkan resiko kedinginan, bayi pun dapat menghadapi proses adaptasi dengan lebih baik. Utami Roesli, (2009).
Program IMD dilakukan dengan cara langsung meletakkan bayi yang baru lahir di dada ibunya dan membiarkan bayi ini merayap untuk menemukan puting susu ibu untuk menyusu. IMD harus dilakukan langsung saat lahir, tanpa boleh ditunda dengan kegiatan menimbang atau mengukur bayi. Bayi juga tidak boleh dibersihkan, hanya dikeringkan kecuali tangannya. Proses ini harus berlangsung skin to skin antara bayi dan ibu. Tahapannya adalah setelah bayi diletakkan, dia akan menyesuaikan diri dengan lingkungan barunya, maka kemungkinan saat pertama kali diletakkan di dada ibu, bayi belum bereaksi. Kemudian berdasarkan bau yang dicium dari tangannya, ini membantu dia menemukan puting susu ibu. Dia akan merangkak naik dengan menekankan kakinya pada perut ibu. Bayi akan menjilati kulit ibunya yang mengandung bakteri baik sehingga kekebalan tubuh bayi dapat bertambah dalam IMD tidak boleh memberikan bantuan apapun pada bayi tapi biarkan bayi menyusu sendiri. Biasanya, bayi dapat menemukan puting susu ibu dalam jangka waktu 1 jam pertama. Dengan melakukan IMD, kedekatan antara ibu dengan bayinya akan terbentuk sebab, dengan memisahkan si ibu dengan si bayi ternyata daya tahan tubuh si bayi akan drop hingga mencapai 25%. Ketika si ibu bersama dengan si bayi, daya tahan si bayi akan berada dalam kondisi prima (Nasution, 2009).
Menurut Hadriyanto (2009) sebanyak 50 persen bayi lahir normal yang dipisahkan dari ibunya saat dilahirkan tidak dapat menyusu, sedangkan bayi yang lahir dengan bantuan tindakan atau obat-obatan dan dipisahkan dari ibunya nyaris semua tidak dapat menyusu dan sebanyak 22% kematian bayi baru lahir dapat dicegah bila bayi disusui oleh ibunya dalam satu jam pertama kelahiran. Melakukan IMD dipercaya akan membantu meningkatkan daya tahan tubuh si bayi terhadap penyakit-penyakit yang berisiko kematian tinggi, Misalnya kanker syaraf, leukimia, dan beberapa penyakit lainnya. Tidak hanya itu, IMD juga dinyatakan menekan Angka Kematian Bayi (AKB) baru melahirkan hingga mencapai 22 persen. Menurut penelitian yang dilakukan di Ghana dan diterbitkan dalam jurnal ilmiah "Pediatrics", 22 persen kematian bayi yang baru lahir - yaitu kematian bayi yang terjadi dalam satu bulan pertama – dapat dicegah bila bayi disusui oleh ibunya dalam satu jam pertama kelahiran. Mengacu pada hasil penelitian itu, maka diperkirakan program "Inisiasi Menyusui Dini" dapat menyelamatkan sekurang-kurangnya 30.000 bayi Indonesia yang meninggal dalam bulan pertama kelahiran. Dengan pemberian ASI dalam satu jam pertama, bayi akan mendapat zat-zat gizi yang penting dan mereka terlindung dari berbagai penyakit berbahaya pada masa yang paling rentan dalam kehidupannya. (Soegianto, 2009)
Program IMD mempunyai manfaat yang besar untuk bayi maupun sang ibu yang baru melahirkan. Tetapi, kurangnya pengetahuan dari orang tua, pihak medis maupun keengganan untuk melakukannya membuat Inisiasi Menyusu Dini masih jarang dipraktekkan. Banyak orang tua yang merasa kasihan dan tidak percaya seorang bayi yang baru lahir dapat mencari sendiri susu ibunya. Ataupun rasa malu untuk meminta dokter yang membantu persalinan untuk melakukannya. Begitu juga dengan dokter atau bidan yang tidak mau direpotkan dengan kegiatan ini sehingga akhirnya bayi tidak diberi kesempatan untuk melakukan ini Utami Roesli, (2009).
Berdasarkan data yang didapatkan di ruang Bersalin IRD RSUP Sanglah jumlah ibu yang melahirkan selama tiga bulan terakhir (Nopember 2009-Januari 2010) didapatkan data bulan Nopember 2009 jumlah ibu yang melahirkan sebanyak 86 orang dimana 55 orang (63,8%) melakukan IMD, Bulan Desember sebanyak 92 orang dimana 80 orang (86,9%) melakukan IMD dan bulan Januari 2010 sebanyak 96 orang dimana 83 orang (86,4%) melakukan IMD. Dari studi pendahuluan yang dilakukan di Ruang bersalin IRD RSUP sanglah pada bulan Februari 2010 ibu yang melahirkan sebanyak 87 orang yang dilakukan IMD sebanyak 79 orang (90,8%) dan yang tidak dilakukan sebanyak 8 orang (9,2%) dari wawancara yang dilakukan terhadap 12 orang ibu Nifas tentang IMD didapatkan data sebanyak sembilan orang memiliki pengetahuan yang kurang tentang IMD dan tiga memiliki pengetahuan yang cukup. Hasil tersebut tidak dapat dijadikan gambaran secara keseluruhan tentang pengetahuan ibu-ibu yang melahirkan di RSUP sanglah tentang Program IMD sehingga hal tersebut membuat ketertarikan peneliti untuk mengadakan penelitian tentang gambaran pengetahuan ibu nifas tentang inisiasi menyusu dini di ruang bersalin IRD RSUP Sanglah Denpasar Tahun 2010.

B. Rumusan Masalah Penelitian
Sesuai latar belakang di atas, dapat dirumuskan “Bagaimanakah gambaran pengetahuan ibu nifas tentang inisiasi menyusu dini di Ruang Bersalin IRD RSUP
Sanglah Denpasar Tahun 2010?”.

C. Tujuan Penelitian

1. Tujuan mum
Untuk mengetahui gambaran pengetahuan ibu nifas tentang inisiasi menyusu dini di Ruang Bersalin IRD RSUP Sanglah Denpasar Tahun 2010.
2. Tujuan khusus
a. Untuk mengidentifikasi pengetahuan ibu nifas tentang inisiasi menyusu dini berdasarkan umur.
b. Untuk mengidentifikasi pengetahuan ibu nifas tentang inisiasi menyusu dini berdasarkan berdasarkan pendidikan.
c. Untuk mengidentifikasi pengetahuan ibu nifas tentang inisiasi menyusu dini berdasarkan berdasarkan pekerjaan.

D. Manfaat Penelitian
Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah:
1. Manfaat Praktis
Hasil penelitian ini dapat dijadikan masukan sebagai dasar untuk mengingkatkan kualitas asuhan kebidanan khususnya yang menyangkut konseling tentang program inisiasi menyusu dini untuk mendukung visi “Kehamilan dan persalinan di Indonesia berlangsung aman, serta bayi yang dilahirkan hidup dan sehat” sehingga angka kematian anak dapat di turunkan.
2. Manfaat Teoritis
Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat menambah literatur dan memperkaya sumber bacaan di bidang asuhan kebidanan, hasil penelitian dapat digunakan untuk data dasar dalam melaksanakan penelitian lebih lanjut yang berkaitan dengan inisiasi menyusu dini.

Tidak ada komentar: