03 Februari 2011

Hubungan Antara Dukungan Suami dengan Kecendrungan Depresi pada Ibu Post Partum Primipara

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Periode kehamilan dan melahirkan merupakan periode kehidupan yang penuh dengan potensi stres. Seorang wanita dalam periode kehamilan dan periode melahirkan (post partum) cenderung mengalami stress yang cukup besar karena keterbatasan kondisi fisik yang membuatnya harus membatasi aktivitas. Secara psikologis seorang ibu post partum akan melalui proses adaptasi psikologis masa postpartum (Sarwono, 2005). Adaptasi psikologis masa postpartum dibagi dalam tiga periode. Periode pertama disebut dengan taking in yang berlangsung selama satu sampai dua hari setelah melahirkan. Periode kedua disebut dengan taking hold yang berlangsung tiga sampai sepuluh hari setelah melahirkan. Periode ketiga disebut dengan letting go yang berlangsung sepuluh hari setelah melahirkan, pada periode ini ibu menerima tanggung jawab sebagai ibu dan mulai menyesuaikan diri dengan ketergantungan bayinya (Mansur, 2009).
Pada masa adaptasi psikologis postpartum sebagian wanita mampu beradaptasi terhadap peran barunya sebagai seorang ibu dengan baik, tetapi ada sebagian lainya tidak berhasil beradaptasi sehingga jatuh dalam kondisi gangguan psikologis postpartum. Secara umum gangguan psikologis postpartum digolongkan menjadi tiga yaitu post partum blues, depresi postpartum dan postpartum psikosis (Mansur, 2009)
Depresi post partum merupakan gangguan suasana hati pada ibu postpartum yang terjadi dalam delapan minggu setelah melahirkan dan bisa berlanjut sampai dengan setahun yang ditandai dengan dipenuhi rasa sedih, menangis tanpa sebab, gangguan tidur dan labilitas afek (Cunningham, 2006). Depresi post partum terjadi lebih dari 25% pada ibu postpartum (Bobak, 2004). Kondisi yang lebih ringan dari depresi postpartum disebut dengan post partum blues. Pada kondisi ini, perempuan tersebut mengalami tanda-tanda sebagaimana pada depresi postpartum hanya saja dalam intensitas yang lebih ringan dan dalam rentang waktu yang lebih pendek. Menurut Danuatmaja (2003) kondisi ini tergolong normal dan hanya sementara. Kondisi yang lebih berat dari depresi post partum adalah post partum psikosis. Gangguan ini sangat jarang ditemukan, diperkirakan 4 dari 1000 kelahiran (Cunningham, 2006). Melihat ketiga gangguan psikologis post partum di atas masalah yang paling penting pada gangguan psikologis post partum adalah depresi post partum, mengingat angka kejadiannya yang tinggi dan penatalaksanaan yang salah dapat mengakibatkan gangguan jiwa yang serius.
Penyebab depresi post partum masih belum dapat diterangkan secara jelas. Beberapa faktor yang diduga sebagai penyebab depresi post partum adalah faktor paritas, hormonal, umur, dan latar belakang psikososial. Faktor paritas diduga riwayat obstetri dan komplikasi yang meliputi riwayat hamil sampai melahirkan sebelumnya. Faktor hormonal meliputi meningkatnya kadar hormon progesteron dan menurunnya kadar hormon estrogen secara cepat setelah melahirkan. Faktor umur saat kehamilan dan melahirkan yang berkaitan dengan kesiapan mental untuk menjadi seorang ibu. Faktor latar belakang psikososial meliputi tingkat pendidikan, status perkawinan, kehamilan yang tidak diinginkan dan keadekuatan dukungan sosial lingkungan (suami, keluarga dan teman) (Ingela, 2009).

Penanganan depresi post partum salah satunya berupa dukungan sosial, menurut Sarason (2005) dukungan sosial diartikan sebagai keberadaan atau kemampuan seseorang dimana individu dapat bergantung padanya, yang menunjukkan kalau dia peduli terhadap individu, bahwa individu ini berharga dan dia mencintai atau menyayangi individu yang bersangkutan. Dukungan sosial dapat diberikan dalam beberapa bentuk, yaitu dukungan emosional, dukungan berupa penghargaan, dukungan berupa bantuan langsung dan dukungan informasional. Dukungan sosial yang dapat diberikan oleh orang-orang yang ada disekitarnya antara lain : suami, orang tua, sahabat, dan rekan kerja. Dari semua sumber dukungan sosial, dukungan sosial dari suami merupakan dukungan yang pertama dan utama dalam memberikan dukungan kepada istri. Hal ini karena suami adalah orang yang pertama yang menyadari akan adanya perubahan dalam diri pasangannya. Apabila ia menilai bahwa suami memberikan dukungan terhadap dirinya, maka akan dapat memungkinkan terjadi pengaruh positif dalam diri calon ibu tersebut. Para ibu yang memiliki jaringan sosial yang baik, akan lebih siap menghadapi kondisi setelah melahirkan. Mereka terlihat tersenyum dan berbicara pada bayi mereka (Ingela, 2009).
Dukungan suami merupakan faktor terbesar untuk memicu terjadinya depresi post partum. Hal ini dikarenakan dukungan suami merupakan strategi koping penting pada saat mengalami stress dan berfungsi sebagai strategi preventif untuk mengurangi stress (Ingela, 2009). Penelitian yang mendukung hal ini adalah penelitian di Universitas Tarumanegara yang dilakukan Hidayatul pada tahun 2009 mengenai persepsi perempuan primipara tentang dukungan suami dalam usaha menanggulangi gejala pasca persalinan. Responden dari penelitian ini berjumlah 3 orang terdiri dari 1 orang Ibu bekerja dan 2 orang Ibu rumah tangga. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa mereka yang memperoleh dukungan suami baik secara emosional, support, penghargaan relatif tidak menunjukkan gejala depresi post partum, sedangkan mereka yang kurang memperoleh dukungan suami relatif mengalami gejala depresi post partum (Marshall, 2004). Penelitian lainnya adalah penelitian yang dilakukan di RS Dr Cipto Mangunkusumo Jakarta oleh Zahra tahun 2008, dimana dilaporkan bahwa dukungan suami dapat menurunkan terjadinya gejala depresi post partum (www.mitrakeluarga.netl, 2008).
Depresi post partum berdampak merusak terhadap hubungan interaksi antara bayi dan ibu dalam tahun pertama kehidupan mereka. Ada hubungan signifikan antara prilaku bayi dan ibu yang mengalami depresi, dimana bayi-bayi dari ibu yang mengalami depresi dilaporkan menunjukan prilaku yang lebih rewel, mudah menangis dan kurang merespon terhadap rangsangan yang diberikan kepadanya. Depresi ini juga dapat menurunkan semangat hidup, bahkan sampai pada tindakan ekstrem yaitu bunuh diri (Beck dalam Soep, 2009).
Angka kejadian depresi postpartum menurut laporan WHO dalam Soep (2009) diperkirakan wanita yang melahirkan dan mengalami depresi ringan berkisar 10 per 1000 kelahiran hidup dan depresi postpartum sedang atau berat berkisar 30 sampai 200 per 1000 kelahiran hidup. Di Asia angka kejadian depresi postpartum cukup tinggi dan sangat bervariasi antara 26-85% dari wanita pasca persalinan (Iskandar, 2007 dalam Munawaroh, 2008). Chen (2000) dalam Soep (2009), melaporkan kejadian depresi postpartum ringan sampai berat di Taiwan sebesar 40%. Di Indonesia hasil penelitian yang dilakukan Wratsangka (1996) dalam Soep (2009) di RS Hasan Sadikin Bandung mencatat 33% ibu setelah melahirkan mengalami depresi postpartum. Hasil penelitian Alfiben (2000) dalam Soep (2009) di RSUP Cipto Mangunkusumo mencatat 33% ibu setelah melahirkan mengalami depresi post partum. Hasil penelitian yang dilakukan Sylvia (2002) dalam Soep (2009) di RSUD Serang mencatat 30% ibu setelah melahirkan mengalami depresi post partum. Untuk di Propinsi Bali, sejauh pengetahuan peneliti belum ditemukan pencatatan mengenai angka kejadian depresi post partum.
Hasil studi pendahuluan yang dilakukan pada bulan Oktober 2010 di Rumah sakit Daerah Sanjiwani Gianyar rata-rata jumlah kunjungan ibu post partum di Poliklinik Kebidanan setiap bulan sebanyak 30 sampai 40 orang. Dari hasil wawancara dengan petugas poliklinik yang menerima kunjungan satu minggu postpartum sering menemukan keluhan susah tidur, perasaan sedih, mudah marah dan tidak ada nafsu makan yang rata-rata dialami oleh ibu primipara. Menurut Bobak (2004) ibu pasca melahirkan primipara belum mempunyai pengalaman melahirkan sehingga lebih membutuhkan support daripada yang sudah mempunyai pengalaman melahirkan sebelumnya untuk mencegah depresi postpartum. Sedangkan Dewi (2008) dalam penelitiannya menyimpulkan bahwa ada hubungan antara dukungan sosial dengan kejadian pospartum blues pada ibu primipara.

Tidak ada komentar: